Good afternoon!! :)
hari ini hari pertama puasa, dan gw ga puasa. tp insya Allah besok gw uda ikut puasa.
ada sesuatu yg ingin gw tulis...
mmmm.. selama ini gw punya hobi terpendam. hobi terpendam ini adalah menulis. gw suka banget nulis. sama kaya gw hobi baca. gw ga tau kenapa, gw punya exitedment yang sangat besar terhadap menulis. tapi karena satu dan lain hal, selama 3 tahun gw kuliah, gw jarang banget nulis. entah karena (SO) sibuk, ato karena emang ga mau mulai nulis.
ya, kadang gw orangnya emang suka ga mau mulai dari awal. dulu, waktu SMA, gw suka nulis. bahkan sejak SMP, gw suka iseng-iseng sendiri nulis cerita. dan sekarang gw sangaaat menyesal, karena gw udah tepat 3 tahun kuliah, dan gw ga pernah nulis sesuatu (kecuali tulisan-tulisan yang gw bikin untuk tugas kuliah)
hmmmm :( cukup mengenaskan jg menurut gw.
so, what should I do now?
apakah gw masih punya waktu dan kesempatan untuk bisa mulai nulis lagi, dan meng-explore diri gw melalui tulisan-tulisan gw? I want to do that so much!
tapi gw takut akan ada yang bilang, "Telat lo!!" hmmm.. ketakutan ini nih yang bikin gw ga pernah mau mulai sejak 3 tahun yang lalu...
dan sampai saat ini, gw selalu merasa masih ada yang kurang dari diri gw. apa itu? ya itu tadi. ketika lo punya hobi, dan ga tersalurkan, lo akan selalu merasa ada yang kurang dari diri lo.
oke. I'll start to write now. officially. :)
seperti ada yang pernah bilang, "It's never too late to be who you might have been"
I hope it isn't too late.
Bismillah :)
Tuesday, August 10, 2010
Friday, August 6, 2010
I'm back.. :)
Hey. I'm back..
It's a friday night. and I'm here. sit in front of my computer. and write.
tonight is a ME time. I love this. sometimes, I love to be alone, and just thinking about my self. because sometimes, I've made myself busy to think about other people, and forget about myself.
I miss my boyfriend now. You know, it's night, and our 'beloved' provider, M3, doesn't work well almost every night. so, we usually lose contact from 7 pm until 10 pm. hha. but not every night.
Hey, I'm just back from KKN, since a week ago. I have a wonderful experiences there. I've got very nice and crazy friends, and of course, a lot of learned things, and a lot of things to be reminded of.
when KKN is over, I were shadowed by all the things related to my UP or Usulan Penelitian, and my thesis. the problem is..... I haven't been thinking about it yet. Oh My..... but I have to start thinking about it now. God, help me. Give me some inspiration. and please guide me.
Ramadan will come over the next few days. and I have a plan to spend my early days of Ramadan in Jakarta.
Okay. that's all for today that I want to share.
see ya :)
It's a friday night. and I'm here. sit in front of my computer. and write.
tonight is a ME time. I love this. sometimes, I love to be alone, and just thinking about my self. because sometimes, I've made myself busy to think about other people, and forget about myself.
I miss my boyfriend now. You know, it's night, and our 'beloved' provider, M3, doesn't work well almost every night. so, we usually lose contact from 7 pm until 10 pm. hha. but not every night.
Hey, I'm just back from KKN, since a week ago. I have a wonderful experiences there. I've got very nice and crazy friends, and of course, a lot of learned things, and a lot of things to be reminded of.
when KKN is over, I were shadowed by all the things related to my UP or Usulan Penelitian, and my thesis. the problem is..... I haven't been thinking about it yet. Oh My..... but I have to start thinking about it now. God, help me. Give me some inspiration. and please guide me.
Ramadan will come over the next few days. and I have a plan to spend my early days of Ramadan in Jakarta.
Okay. that's all for today that I want to share.
see ya :)
Friday, June 4, 2010
KRISIS NUKLIR IRAN: Sebuah Studi Kasus terhadap Keamanan Global
Pendahuluan
Proyek pengembangan nuklir yang mulai dilakukan Iran sejak 1960-an, dan mulai dilanjutkan kembali pada pertengahan tahun 1990-an, ternyata mendapatkan banyak penentangan dari pihak Barat sejak tahun 2003, dimana negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat mengklaim bahwa proyek pengembangan nuklir yang dilakukan Iran merupakan proyek untuk menghasilkan senjata nuklir. Iran membantah pernyataan tersebut dengan menyatakan bahwa proyek pengembangan nuklir yang dilakukannya adalah untuk tujuan damai, seperti untuk keperluan sipil, diantaranya pengembangan tenaga listrik dan riset. Hasil inspeksi yang dilakukan oleh Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) juga membuktikan hal tersebut. Namun AS dan sekutunya tetap bersikukuh bahwa Iran memproduksi senjata nuklir dan bahwa proyek pengembangan nuklir Iran harus segera dihentikan.
Sebenarnya, apa tujuan dari pengembangan energi nuklir yang dilakukan oleh Iran? Apakah benar ditujukan untuk memproduksi senjata? Mengapa AS tetap bersikukuh untuk menghentikan proyek pengembangan nuklir Iran meskipun belum ada bukti apapun yang mengindikasikan bahwa Iran memproduksi senjata nuklir? Apakah ada alasan lain dibalik penentangan AS terhadap proyek pengembangan nuklir Iran? Apa dampak krisis nuklir Iran terhadap keamanan regional dan keamanan global? Semuanya akan saya uraikan di dalam esai ini.
Sejarah dan Perjalanan Pengembangan Nuklir Iran
Iran mulai melaksanakan program nuklirnya sejak tahun 1960-an. Instalasi nuklir Iran pertama adalah untuk riset nuklir dengan kekuatan hanya lima Megawatt yang diperolehnya dari AS dan memulai beroperasi pada 1967. Pada tahun 1968, dibentuk perjanjian pelarangan penyebaran senjata nuklir diantara negara-negara pemilik nuklir dalam bentuk Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT), dan pada tahun 1970, Iran telah menjadi salah satu negara penandatangannya. Di bawah pemerintahan Shah, Iran terus mengembangkan aktifitas nuklirnya dengan melakukan kerjasama dan transaksi dengan beberapa perusahaan Eropa, seperti perusahaan ”Siemen” dari Jerman pada tahun 1975, dan perusahaan dari Perancis pada tahun berikutnya. Namun, pada tahun 1979, seiring dengan jatuhnya kekuasaan Shah, Khomeini, yang saat itu mengambil kursi pemerintahan, menghentikan aktifitas pembangunan reaktor-reaktor nuklir Iran. Hal ini disebabkan karena proyek pembangunan nuklir telah menghabiskan sekitar 30 milyar dolar, dan proyek ini dianggap hanya untuk memenuhi ambisi Shah semata.
Aktifitas nuklir Iran berhenti selama masa pemerintahan Khomeini. Pada tahun 1995, program nuklir Iran mulai dilanjutkan oleh Rafsanjani, dan terus berlanjut selama periode kaum reformis (1997-2005) di bawah kekuasaan Khatami. Pada tahun 2003, muncul awal mula permasalahan terhadap pengembangan nuklir Iran, yang dimulai oleh pengumuman yang dilakukan oleh pihak oposisi Iran yang diasingkan, bahwa Iran sedang mengejar program nuklir yang bersifat rahasia dan tidak aman, kemudian menyelimuti dan menyembunyikannya dari para inspektor Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA). Berdasarkan hal inilah, ketua IAEA, Mohammad al-Barada’i menyiapkan sebuah laporan dan menunjukkannya kepada IAEA.
Pada saat inilah momentum mengenai Krisis Nuklir Iran dimulai. Sejak saat itu, dimulailah serangkaian dialog dengan trio Eropa, yaitu Jerman, Perancis, dan Inggris. Pada tanggal 25 Oktober 2003 ditandatangani protokol yang dinamai sebagai ’Protokol Tambahan’ yang isinya memperbolehkan IAEA melakukan inspeksi dadakan. Hal ini ditujukan untuk mencegah tuduhan-tuduhan terhadap Iran bahwa mereka telah menyembunyikan aktifitas pengembangan nuklir untuk memproduksi senjata dan permasalahan yang sensitif lainnya, yang bisa dibuktikan selama inspeksi rutin dan inspeksi terjadwal. Demi negosiasi, Iran akhirnya menghentikan proses pengayaan uraniumnya. Namun, meskipun Iran telah menghentikan proses pengayaan uraniumnya, desakan terhadap Iran untuk menghentikan keseluruhan program nuklirnya semakin besar dan aturan-aturan terhadap Iran semakin diperketat, dan tidak ada jaminan terhadap hak Iran untuk menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai, seperti yang tercantum dalam Non-Ploriferation Treaty. Hal ini membuat Iran kembali menjalankan program pengayaan uraniumnya.
Pada tanggal 23 Desember 2006, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi 1737 yang isinya menyeru Iran untuk menghentikan proses pengayaan uraniumnya. Namun Iran mengacuhkan resolusi ini dan tetap mempertahankan haknya untuk menggunakan energi nuklir demi tujuan-tujuan damai sebagaimana yang dijamin di dalam Non-Ploriferation Treaty. Pada tanggal 23 April 2007, DK PBB mengeluarkan resolusi 1747 dan memberikan tenggat waktu dua bulan bagi Iran untuk menghentikan proses pengayaan yang ditambah dengan tekanan terhadap Iran untuk menanggalkan haknya dalam penggunaan energi nuklir untuk tujuan-tujuan damai.
Apa tujuan Iran mengembangkan proyek nuklirnya?
Pada tahun 1970, Iran telah menandatangani perjanjian pelarangan penyebaran senjata nuklir (Nuclear Non-Proliferation Treaty) yang berisi larangan penyebaran senjata nuklir, penggunaan energi nuklir untuk kepentingan damai, dan penghapusan senjata nuklir secara menyeluruh. Mengacu pada isi perjanjian tersebut, Iran berhak mendapatkan haknya dalam mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Hasil inspeksi yang dilakukan oleh IAEA juga mengatakan bahwa tidak ada penyimpangan sedikitpun dari proyek nuklir Iran. Iran juta telah berkali-kali menegaskan bahwa program nuklirnya dilakukan untuk tujuan damai, dan untuk kepentingan sipil.
Nuklir merupakan salah satu aset terpenting yang dimiliki Iran saat ini –selain minyak bumi—yang menjadi komoditi utama di bidang ilmu dan teknologi serta perdagangan Iran. Tujuan dari pengembangan teknologi nuklir di Iran –seperti yang telah berulang kali ditegaskan oleh para pemimpin Iran—adalah untuk kepentingan sipil, seperti pengembangan tenaga listrik dan riset, yang kelak akan berguna bagi keadilan dan kedamaian di muka bumi.
Penentangan Negara-negara Barat khususnya AS terhadap pengembangan nuklir Iran
Konflik AS-Iran mulai muncul ke permukaan berawal dari beberapa pernyataan yang dikeluarkan oleh para politisi AS dan Inggris seputar nuklir Iran, seperti pernyataan George W. Bush dalam konferensi persnya: “Saya telah memberitahu kepada khalayak bahwa jika anda tertarik untuk mencegah Perang Dunia Ketiga, maka sepertinya anda harus tertarik untuk mencegah mereka (Iran) dari kepemilikan atas pengetahuan yang dibutuhkan untuk membuat sebuah senjata nuklir.”
Selain itu, Tony Blair memproklamirkan ketika berbicara tentang ‘ideologi mematikan’ dari ekstrimis Muslim, “Ideologi ini kini telah memiliki sebuah negara, Iran, yang bersiap-siap untuk membekingi dan mendanai teror dalam rangka menggoncang negara-negara yang rakyatnya ingin hidup dengan damai.” Wakil Presiden AS, Dick Cheney pun juga mengatakan dalam kaitannya dengan ambisi nuklir Iran, “Negara kami, dan seluruh komunitas internasional, tidak dapat hidup normal manakala sebuah negara pendukung teror mampu memenuhi ambisi terbesarnya.”
Negara-negara Barat, terutama AS, terus menghembuskan isu-isu bahwa proyek nuklir sipil Iran hendak dibelokkan menjadi proyek senjata nuklir. Meskipun tim inspeksi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) selalu mengatakan bahwa tidak ada penyimpangan sedikitpun dari proyek nuklir Iran. Pengayaan nuklir Iran dilakukan hanya pada tingkat 5%, yang merupakan batasan bagi pengayaan uranium untuk tujuan damai, di mana dalam proses nuklir untuk tujuan militer dibutuhkan uranium dengan tingkat pengayaan hingga 97%.
Untuk menekan Iran agar mau menuruti keinginan AS yaitu menghentikan program pengayaan nuklirnya, AS melakukan embargo ekonomi dan mengeluarkan ancaman serangan militer terhadap Iran. Selain itu, AS juga mengancam akan memberikan sanksi kepada negara manapun yang menanamkan investasi di Iran dalam jumlah besar.
Menanggapi sanksi Dewan Keamanan PBB tersebut, Pemerintah Iran mengancam akan menggunakan senjata apapun untuk mempertahankan diri, termasuk ekspor minyak, sebagai senjata dalam menghadapi tekanan internasional terhadap program nuklir Iran. Tentu saja apabila ancaman ini benar-benar dipraktekkan Iran, maka tidak diragukan lagi harga minyak mentah di pasaran dunia akan meningkat dan berbagai transaksi perdagangan internasional akan ikut juga terganggu.
Di lain pihak AS juga tampaknya tak gentar dengan ancaman Iran tersebut. Menteri Pertahanan AS Robert Gates malah menyatakan bahwa kehadiran Angkatan Laut AS di Teluk Persia akan ditingkatkan. Hal ini dibuktikan dengan didatangkannya dua kapal induk yang berpangkalan di Washington dan laut Pasifik yakni USS Dwight D. Eisenhower dan USS John C. Stennis yang memuat 16.000 tentara, selain itu, AS menggerakkan kekuatan personel pasukan gerak cepat yang dibantu oleh kapal-kapal gudang senjata dari Diego Garcia ke Pantai Iran untuk mendaratkan senjata-senjata berat dan suplai.
Nuklir Iran: Ancaman bagi Keamanan Regional dan Keamanan Global ?
Program pengembangan nuklir yang dilakukan oleh Iran membuat negara tersebut dicap oleh AS sebagai kekuatan revisionis dalam sistem regional Timur Tengah. Oleh karena itu, Iran dianggap sebagai ancaman, baik bagi kestabilan sistem internasional, maupun bagi kestabilan kawasan, serta bagi kepentingan AS sebagai negara utama di kawasan. Dengan alasan inilah AS menghembuskan istilah ”Iranian Threat.” untuk menyebutkan ancaman yang datang dari proyek nuklir yang dilakukan Iran.
Ancaman bagi Keamanan Kawasan Timur Tengah
Bagi negara-negara di suatu kawasan, ancaman akan didefinisikan berdasarkan kedekatan (proximity). AS menyatakan bahwa program pengembangan nuklir Iran akan dipandang sebagai ancaman oleh negara-negara Arab atau Israel. AS pun menambahkan bahwa hal inilah yang dikhawatirkan akan menimbulkan efek bola salju kepemilikan senjata nuklir. Dengan kemampuan finansial yang dimiliki oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah, bukan hal yang sulit bagi negara-negara tersebut untuk juga mulai mengembangkan senjata nuklirnya masing-masing.
Namun menurut saya, ini hanyalah salah satu alasan yang dibuat-buat oleh AS untuk terus berupaya menghalangi pengembangan nuklir Iran. Menurut saya, Iran tidak memiliki masalah dengan negara-negara di Timur Tengah, dan tidak ada alasan bagi Iran untuk menyerang negara-negara Timur Tengah, yang masih memiliki kedekatan persaudaraan dengan Iran. Dengan adanya dialog intrakawasan, dan pembangunan rasa saling percaya diantara negara-negara tersebut bisa menghilangkan ketakutan akan ancaman terhadap keamanan regional yang berasal dari Iran. Dalam hal keamanan regional, yang ditakutkan AS sebenarnya adalah keamanan Israel, yang berada dalam satu region dengan Iran. Isu yang dihembuskan AS mengenai keamanan regional ini adalah sebagai upaya untuk melindungi sekutu utamanya tersebut. Bagi AS, kekuatan nuklir yang dimiliki Iran memiliki bahaya yang besar terhadap kompleks dan tirai keamanan Israel, sebagai satu-satunya kekuatan nuklir di Timur-Tengah.
Ancaman bagi Keamanan Global
Scott Sagan (Journal of International Affairs, 2007) menilai bahwa kepemilikan nuklir Iran berpotensi memunculkan masalah karena tiga alasan. Pertama, kepemilikan nuklir akan memunculkan tendensi perilaku agresif dalam penggunaan senjata konvensional. Kedua, ancaman pencurian. Ketiga, potensi kebocoran teknologi dan senjata nuklir ke tangan teroris. Ketiganya terkait dengan kemampuan negara pemilik untuk mengendalikan dan menjamin keamanan kepemilikan senjata nuklirnya.
Menurut saya, jika yang dikhawatirkan oleh pihak Barat mengenai pengembangan nuklir Iran adalah tiga hal diatas, menghentikan proyek pengembangan nuklir Iran bukanlah satu-satunya solusi. Jika AS khawatir terhadap penanganan dan keamanan untuk mencegah proliferasi teknologi dan senjata nuklir ke tangan yang salah, solusinya bisa dengan penggunaan instrumen diplomatik dengan dialog-dialog untuk membangun Iran sebagai pemilik yang bertanggung jawab. Jika AS khawatir bahwa Iran akan berbelok menyalahgunakan nuklirnya untuk memproduksi senjata, melibatkan Iran dalam dialog juga menjadi solusinya.
Alasan AS di balik penentangan terhadap pengembangan nuklir Iran
Serangkaian inspeksi yang dilakukan oleh IAEA yang membuktikan bahwa tidak ada penyimpangan sedikitpun dari proyek nuklir Iran, dan pernyataan Iran yang berkali-kali menegaskan bahwa proyek nuklirnya bertujuan untuk kepentingan sipil dan riset ternyata sama sekali tidak membuat AS berhenti untuk menentang pengembangan nuklir Iran. Apa yang membuat AS tetap bersikukuh menentang pengembangan nuklir Iran? Di bawah ini merupakan beberapa alasan mengapa AS tetap bersikukuh untuk menentang pengembangan nuklir Iran.
1. Kepentingan AS terhadap timur tengah.
Timur tengah mempunyai arti yang sangat besar bagi AS. Selain karena letaknya yang sangat strategis, kawasan ini mengandung sumber utama minyak. Cadangan minyaknya hampir sekitar dua pertiga cadangan minyak dunia dan produksinya pernah mencapai 40 persen produksi dunia. AS ikut melibatkan diri dalam percaturan kawasan Timur Tengah, pada dasarnya merupakan manifestasi tekad membendung perluasan daerah pengaruh (sphere of influence) dan daerah kepentingan (sphere of interest) dari negara-negara lain yang berseberangan dengan kepentingan nasional AS. Hal itu disebabkan ketergantungan Barat akan impor minyak dari kawasan itu sangat besar. Maka itu, tak dapat dipungkiri bahwa krisis kepemilikan nuklir Iran tampaknya akan mempermudah AS untuk mencapai Teluk Parsi dan suplai utama minyak Barat.
2. Sebagai salah satu cara untuk memudarkan pengaruh Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan usahanya untuk melawan imperialisme AS.
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dikenal sebagai presiden yang sangat gigih untuk melawan segala bentuk imperialisme AS di negaranya. Sejak tampilnya Ahmadinejad ke tampuk kekuasaan di Iran, muncul corak baru peningkatan-peningkatan kekuatan progresif, khususnya gerakan-gerakan untuk melawan imperialisme Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Ahmadinejad sangat anti terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ditambah lagi dengan pernyataan-pernyataannya seperti, ingin “menghapus Isreal dari peta dunia”, bahwa Barat yang mesti “bertanggung jawab atas terjadinya holocaust, bukan bangsa Palestina”, bahwa “suatu hari nanti Israel akan hancur”, dsb. AS menyadari bahwa kepemimpinan Ahmadinejad dan kondisi perlawanan Iran terhadap AS dapat berefek bola salju menjalar ke berbagai belahan dunia apabila tidak segera dihentikan. Kombinasi antara kepemimpinan Ahmadinejad, kondisi perlawanan rakyat Iran terhadap AS, dan kekuatan nuklir Iran, mengakumulasikan kekuatiran AS akan Iran.
Kesimpulan
Berdasarkan kasus mengenai ’Krisis Nuklir Iran’ di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan di bawah ini:
1. Proyek pengembangan nuklir yang dilakukan Iran memberikan ancaman bagi keamanan regional di Timur Tengah, bukan terhadap negara-negara Arab lain yang ada di Timur Tengah, melainkan bagi Israel, yang selama ini menjadi satu-satunya negara yang memiliki kekuatan nuklir di Timur Tengah. Proyek pengembangan nuklir yang dilakukan Iran akan memberikan ancaman terhadap security complex atau kompleks keamanan Timur Tengah, terutama terhadap Israel, juga memberikan ancaman terhadap security overlay atau tirai keamanan Israel. Faktor inilah yang menjadi salah satu alasan yang melandasi tindakan AS dalam upayanya untuk menghentikan program pengembangan nuklir Iran. Israel merupakan salah satu sekutu AS, dan AS tentu akan berupaya sekuat tenaga (meskipun dengan berbagai macam rekayasa) untuk melindungi sekutunya tersebut.
2. Selain bagi Israel, proyek pengembangan nuklir Iran juga dianggap sebagai ancaman bagi AS. AS memang memiliki kekhawatiran yang besar terhadap kepemilikan nuklir oleh Iran yang dikhawatirkan akan digunakan untuk memproduksi senjata nuklir. Merupakan suatu hal yang wajar jika suatu negara merasa tidak aman jika negara lain —terutama negara yang memiliki paham yang berseberangan dengan negaranya)— mengembangkan kekuatan nuklir. Akan muncul kekhawatiran bahwa nuklir tersebut akan disalahgunakan untuk pembuatan senjata. Namun kekhawatiran tersebut semakin tidak berdasar ketika telah dilakukan inspeksi kepada negara yang bersangkutan, dan negara tersebut tidak terbukti memproduksi senjata nuklir.
3. Terdapat beberapa alasan lain di balik penentangan AS terhadap pengembangan nuklir selain karena kekhawatirannya terhadap aktifitas produksi senjata nuklir yang mungkin dilakukan Iran. Alasan tersebut diantaranya: (1) AS memanfaatkan isu nuklir Iran untuk bisa masuk ke kawasan Timur Tengah terutama kawasan Teluk Persia, dimana di daerah tersebut terdapat cadangan minyak Iran yang besar, yang juga merupakan salah satu sumber minyak AS. Dengan menggerakkan militernya ke kawasan Persia (dengan dalih untuk menjaga keamanan di Teluk Persia karena isu nuklir Iran) akan semakin mendekatkan AS dari sumber cadangan minyaknya. (2) AS, terutama pada masa George W. Bush memiliki sentimen yang besar terhadap Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, karena sikapnya yang anti Amerika, yang juga mempengaruhi gerakan-gerakan di berbagai dunia untuk melawan imperialisme AS, seperti yang dilakukan Ahmadinejad di Iran.
Referensi
Buzan, Barry, Ole Waever, dan Jaap de Wilde. 1998. Security: A New Framework for Analysis. Colorado dan London: Lynne Rienner Publishers.
Broto wardoyo. Kontroversi Nuklir Iran, diakses pada 28 Mei 2010
Gunaryadi. 2006. ’Ploroferasi Nuklir Iran dan Realpolitik’, diakses pada 28 Mei 2010
Rizki Saputro. Ambisi nuklir iran dan permainan AS dalam http://rizkisaputro.wordpress.com/2008/01/25/ambisi-nuklir-iran-dan-permainan-as/ diakses pada 28 Mei 2010
Yanyan Moch. Yani. Sekitar Krisis Nuklir Iran, diakses pada 28 Mei 2010
Zamharir AR. Menyoal Krisis Nuklir Iran, Suara Karya Online, dalam http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=134215 diakses pada 28 Mei 2010
Pengaturan Hukum Internasional Atas Pemanfaatan Tenaga Nuklir dalam http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/12176/1/09E01679.pdf diakses pada 28 Mei 2010
UE: Perjanjian Nuklir Iran tak Tuntas, Kompas.com, 17 Mei 2010 dalam http://internasional.kompas.com/read/2010/05/17/23294796/UE:.Perjanjian.Nuklir.Iran.Tak.Tuntas diakses pada 28 Mei 2010
Proyek pengembangan nuklir yang mulai dilakukan Iran sejak 1960-an, dan mulai dilanjutkan kembali pada pertengahan tahun 1990-an, ternyata mendapatkan banyak penentangan dari pihak Barat sejak tahun 2003, dimana negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat mengklaim bahwa proyek pengembangan nuklir yang dilakukan Iran merupakan proyek untuk menghasilkan senjata nuklir. Iran membantah pernyataan tersebut dengan menyatakan bahwa proyek pengembangan nuklir yang dilakukannya adalah untuk tujuan damai, seperti untuk keperluan sipil, diantaranya pengembangan tenaga listrik dan riset. Hasil inspeksi yang dilakukan oleh Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) juga membuktikan hal tersebut. Namun AS dan sekutunya tetap bersikukuh bahwa Iran memproduksi senjata nuklir dan bahwa proyek pengembangan nuklir Iran harus segera dihentikan.
Sebenarnya, apa tujuan dari pengembangan energi nuklir yang dilakukan oleh Iran? Apakah benar ditujukan untuk memproduksi senjata? Mengapa AS tetap bersikukuh untuk menghentikan proyek pengembangan nuklir Iran meskipun belum ada bukti apapun yang mengindikasikan bahwa Iran memproduksi senjata nuklir? Apakah ada alasan lain dibalik penentangan AS terhadap proyek pengembangan nuklir Iran? Apa dampak krisis nuklir Iran terhadap keamanan regional dan keamanan global? Semuanya akan saya uraikan di dalam esai ini.
Sejarah dan Perjalanan Pengembangan Nuklir Iran
Iran mulai melaksanakan program nuklirnya sejak tahun 1960-an. Instalasi nuklir Iran pertama adalah untuk riset nuklir dengan kekuatan hanya lima Megawatt yang diperolehnya dari AS dan memulai beroperasi pada 1967. Pada tahun 1968, dibentuk perjanjian pelarangan penyebaran senjata nuklir diantara negara-negara pemilik nuklir dalam bentuk Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT), dan pada tahun 1970, Iran telah menjadi salah satu negara penandatangannya. Di bawah pemerintahan Shah, Iran terus mengembangkan aktifitas nuklirnya dengan melakukan kerjasama dan transaksi dengan beberapa perusahaan Eropa, seperti perusahaan ”Siemen” dari Jerman pada tahun 1975, dan perusahaan dari Perancis pada tahun berikutnya. Namun, pada tahun 1979, seiring dengan jatuhnya kekuasaan Shah, Khomeini, yang saat itu mengambil kursi pemerintahan, menghentikan aktifitas pembangunan reaktor-reaktor nuklir Iran. Hal ini disebabkan karena proyek pembangunan nuklir telah menghabiskan sekitar 30 milyar dolar, dan proyek ini dianggap hanya untuk memenuhi ambisi Shah semata.
Aktifitas nuklir Iran berhenti selama masa pemerintahan Khomeini. Pada tahun 1995, program nuklir Iran mulai dilanjutkan oleh Rafsanjani, dan terus berlanjut selama periode kaum reformis (1997-2005) di bawah kekuasaan Khatami. Pada tahun 2003, muncul awal mula permasalahan terhadap pengembangan nuklir Iran, yang dimulai oleh pengumuman yang dilakukan oleh pihak oposisi Iran yang diasingkan, bahwa Iran sedang mengejar program nuklir yang bersifat rahasia dan tidak aman, kemudian menyelimuti dan menyembunyikannya dari para inspektor Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA). Berdasarkan hal inilah, ketua IAEA, Mohammad al-Barada’i menyiapkan sebuah laporan dan menunjukkannya kepada IAEA.
Pada saat inilah momentum mengenai Krisis Nuklir Iran dimulai. Sejak saat itu, dimulailah serangkaian dialog dengan trio Eropa, yaitu Jerman, Perancis, dan Inggris. Pada tanggal 25 Oktober 2003 ditandatangani protokol yang dinamai sebagai ’Protokol Tambahan’ yang isinya memperbolehkan IAEA melakukan inspeksi dadakan. Hal ini ditujukan untuk mencegah tuduhan-tuduhan terhadap Iran bahwa mereka telah menyembunyikan aktifitas pengembangan nuklir untuk memproduksi senjata dan permasalahan yang sensitif lainnya, yang bisa dibuktikan selama inspeksi rutin dan inspeksi terjadwal. Demi negosiasi, Iran akhirnya menghentikan proses pengayaan uraniumnya. Namun, meskipun Iran telah menghentikan proses pengayaan uraniumnya, desakan terhadap Iran untuk menghentikan keseluruhan program nuklirnya semakin besar dan aturan-aturan terhadap Iran semakin diperketat, dan tidak ada jaminan terhadap hak Iran untuk menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai, seperti yang tercantum dalam Non-Ploriferation Treaty. Hal ini membuat Iran kembali menjalankan program pengayaan uraniumnya.
Pada tanggal 23 Desember 2006, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi 1737 yang isinya menyeru Iran untuk menghentikan proses pengayaan uraniumnya. Namun Iran mengacuhkan resolusi ini dan tetap mempertahankan haknya untuk menggunakan energi nuklir demi tujuan-tujuan damai sebagaimana yang dijamin di dalam Non-Ploriferation Treaty. Pada tanggal 23 April 2007, DK PBB mengeluarkan resolusi 1747 dan memberikan tenggat waktu dua bulan bagi Iran untuk menghentikan proses pengayaan yang ditambah dengan tekanan terhadap Iran untuk menanggalkan haknya dalam penggunaan energi nuklir untuk tujuan-tujuan damai.
Apa tujuan Iran mengembangkan proyek nuklirnya?
Pada tahun 1970, Iran telah menandatangani perjanjian pelarangan penyebaran senjata nuklir (Nuclear Non-Proliferation Treaty) yang berisi larangan penyebaran senjata nuklir, penggunaan energi nuklir untuk kepentingan damai, dan penghapusan senjata nuklir secara menyeluruh. Mengacu pada isi perjanjian tersebut, Iran berhak mendapatkan haknya dalam mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Hasil inspeksi yang dilakukan oleh IAEA juga mengatakan bahwa tidak ada penyimpangan sedikitpun dari proyek nuklir Iran. Iran juta telah berkali-kali menegaskan bahwa program nuklirnya dilakukan untuk tujuan damai, dan untuk kepentingan sipil.
Nuklir merupakan salah satu aset terpenting yang dimiliki Iran saat ini –selain minyak bumi—yang menjadi komoditi utama di bidang ilmu dan teknologi serta perdagangan Iran. Tujuan dari pengembangan teknologi nuklir di Iran –seperti yang telah berulang kali ditegaskan oleh para pemimpin Iran—adalah untuk kepentingan sipil, seperti pengembangan tenaga listrik dan riset, yang kelak akan berguna bagi keadilan dan kedamaian di muka bumi.
Penentangan Negara-negara Barat khususnya AS terhadap pengembangan nuklir Iran
Konflik AS-Iran mulai muncul ke permukaan berawal dari beberapa pernyataan yang dikeluarkan oleh para politisi AS dan Inggris seputar nuklir Iran, seperti pernyataan George W. Bush dalam konferensi persnya: “Saya telah memberitahu kepada khalayak bahwa jika anda tertarik untuk mencegah Perang Dunia Ketiga, maka sepertinya anda harus tertarik untuk mencegah mereka (Iran) dari kepemilikan atas pengetahuan yang dibutuhkan untuk membuat sebuah senjata nuklir.”
Selain itu, Tony Blair memproklamirkan ketika berbicara tentang ‘ideologi mematikan’ dari ekstrimis Muslim, “Ideologi ini kini telah memiliki sebuah negara, Iran, yang bersiap-siap untuk membekingi dan mendanai teror dalam rangka menggoncang negara-negara yang rakyatnya ingin hidup dengan damai.” Wakil Presiden AS, Dick Cheney pun juga mengatakan dalam kaitannya dengan ambisi nuklir Iran, “Negara kami, dan seluruh komunitas internasional, tidak dapat hidup normal manakala sebuah negara pendukung teror mampu memenuhi ambisi terbesarnya.”
Negara-negara Barat, terutama AS, terus menghembuskan isu-isu bahwa proyek nuklir sipil Iran hendak dibelokkan menjadi proyek senjata nuklir. Meskipun tim inspeksi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) selalu mengatakan bahwa tidak ada penyimpangan sedikitpun dari proyek nuklir Iran. Pengayaan nuklir Iran dilakukan hanya pada tingkat 5%, yang merupakan batasan bagi pengayaan uranium untuk tujuan damai, di mana dalam proses nuklir untuk tujuan militer dibutuhkan uranium dengan tingkat pengayaan hingga 97%.
Untuk menekan Iran agar mau menuruti keinginan AS yaitu menghentikan program pengayaan nuklirnya, AS melakukan embargo ekonomi dan mengeluarkan ancaman serangan militer terhadap Iran. Selain itu, AS juga mengancam akan memberikan sanksi kepada negara manapun yang menanamkan investasi di Iran dalam jumlah besar.
Menanggapi sanksi Dewan Keamanan PBB tersebut, Pemerintah Iran mengancam akan menggunakan senjata apapun untuk mempertahankan diri, termasuk ekspor minyak, sebagai senjata dalam menghadapi tekanan internasional terhadap program nuklir Iran. Tentu saja apabila ancaman ini benar-benar dipraktekkan Iran, maka tidak diragukan lagi harga minyak mentah di pasaran dunia akan meningkat dan berbagai transaksi perdagangan internasional akan ikut juga terganggu.
Di lain pihak AS juga tampaknya tak gentar dengan ancaman Iran tersebut. Menteri Pertahanan AS Robert Gates malah menyatakan bahwa kehadiran Angkatan Laut AS di Teluk Persia akan ditingkatkan. Hal ini dibuktikan dengan didatangkannya dua kapal induk yang berpangkalan di Washington dan laut Pasifik yakni USS Dwight D. Eisenhower dan USS John C. Stennis yang memuat 16.000 tentara, selain itu, AS menggerakkan kekuatan personel pasukan gerak cepat yang dibantu oleh kapal-kapal gudang senjata dari Diego Garcia ke Pantai Iran untuk mendaratkan senjata-senjata berat dan suplai.
Nuklir Iran: Ancaman bagi Keamanan Regional dan Keamanan Global ?
Program pengembangan nuklir yang dilakukan oleh Iran membuat negara tersebut dicap oleh AS sebagai kekuatan revisionis dalam sistem regional Timur Tengah. Oleh karena itu, Iran dianggap sebagai ancaman, baik bagi kestabilan sistem internasional, maupun bagi kestabilan kawasan, serta bagi kepentingan AS sebagai negara utama di kawasan. Dengan alasan inilah AS menghembuskan istilah ”Iranian Threat.” untuk menyebutkan ancaman yang datang dari proyek nuklir yang dilakukan Iran.
Ancaman bagi Keamanan Kawasan Timur Tengah
Bagi negara-negara di suatu kawasan, ancaman akan didefinisikan berdasarkan kedekatan (proximity). AS menyatakan bahwa program pengembangan nuklir Iran akan dipandang sebagai ancaman oleh negara-negara Arab atau Israel. AS pun menambahkan bahwa hal inilah yang dikhawatirkan akan menimbulkan efek bola salju kepemilikan senjata nuklir. Dengan kemampuan finansial yang dimiliki oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah, bukan hal yang sulit bagi negara-negara tersebut untuk juga mulai mengembangkan senjata nuklirnya masing-masing.
Namun menurut saya, ini hanyalah salah satu alasan yang dibuat-buat oleh AS untuk terus berupaya menghalangi pengembangan nuklir Iran. Menurut saya, Iran tidak memiliki masalah dengan negara-negara di Timur Tengah, dan tidak ada alasan bagi Iran untuk menyerang negara-negara Timur Tengah, yang masih memiliki kedekatan persaudaraan dengan Iran. Dengan adanya dialog intrakawasan, dan pembangunan rasa saling percaya diantara negara-negara tersebut bisa menghilangkan ketakutan akan ancaman terhadap keamanan regional yang berasal dari Iran. Dalam hal keamanan regional, yang ditakutkan AS sebenarnya adalah keamanan Israel, yang berada dalam satu region dengan Iran. Isu yang dihembuskan AS mengenai keamanan regional ini adalah sebagai upaya untuk melindungi sekutu utamanya tersebut. Bagi AS, kekuatan nuklir yang dimiliki Iran memiliki bahaya yang besar terhadap kompleks dan tirai keamanan Israel, sebagai satu-satunya kekuatan nuklir di Timur-Tengah.
Ancaman bagi Keamanan Global
Scott Sagan (Journal of International Affairs, 2007) menilai bahwa kepemilikan nuklir Iran berpotensi memunculkan masalah karena tiga alasan. Pertama, kepemilikan nuklir akan memunculkan tendensi perilaku agresif dalam penggunaan senjata konvensional. Kedua, ancaman pencurian. Ketiga, potensi kebocoran teknologi dan senjata nuklir ke tangan teroris. Ketiganya terkait dengan kemampuan negara pemilik untuk mengendalikan dan menjamin keamanan kepemilikan senjata nuklirnya.
Menurut saya, jika yang dikhawatirkan oleh pihak Barat mengenai pengembangan nuklir Iran adalah tiga hal diatas, menghentikan proyek pengembangan nuklir Iran bukanlah satu-satunya solusi. Jika AS khawatir terhadap penanganan dan keamanan untuk mencegah proliferasi teknologi dan senjata nuklir ke tangan yang salah, solusinya bisa dengan penggunaan instrumen diplomatik dengan dialog-dialog untuk membangun Iran sebagai pemilik yang bertanggung jawab. Jika AS khawatir bahwa Iran akan berbelok menyalahgunakan nuklirnya untuk memproduksi senjata, melibatkan Iran dalam dialog juga menjadi solusinya.
Alasan AS di balik penentangan terhadap pengembangan nuklir Iran
Serangkaian inspeksi yang dilakukan oleh IAEA yang membuktikan bahwa tidak ada penyimpangan sedikitpun dari proyek nuklir Iran, dan pernyataan Iran yang berkali-kali menegaskan bahwa proyek nuklirnya bertujuan untuk kepentingan sipil dan riset ternyata sama sekali tidak membuat AS berhenti untuk menentang pengembangan nuklir Iran. Apa yang membuat AS tetap bersikukuh menentang pengembangan nuklir Iran? Di bawah ini merupakan beberapa alasan mengapa AS tetap bersikukuh untuk menentang pengembangan nuklir Iran.
1. Kepentingan AS terhadap timur tengah.
Timur tengah mempunyai arti yang sangat besar bagi AS. Selain karena letaknya yang sangat strategis, kawasan ini mengandung sumber utama minyak. Cadangan minyaknya hampir sekitar dua pertiga cadangan minyak dunia dan produksinya pernah mencapai 40 persen produksi dunia. AS ikut melibatkan diri dalam percaturan kawasan Timur Tengah, pada dasarnya merupakan manifestasi tekad membendung perluasan daerah pengaruh (sphere of influence) dan daerah kepentingan (sphere of interest) dari negara-negara lain yang berseberangan dengan kepentingan nasional AS. Hal itu disebabkan ketergantungan Barat akan impor minyak dari kawasan itu sangat besar. Maka itu, tak dapat dipungkiri bahwa krisis kepemilikan nuklir Iran tampaknya akan mempermudah AS untuk mencapai Teluk Parsi dan suplai utama minyak Barat.
2. Sebagai salah satu cara untuk memudarkan pengaruh Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan usahanya untuk melawan imperialisme AS.
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dikenal sebagai presiden yang sangat gigih untuk melawan segala bentuk imperialisme AS di negaranya. Sejak tampilnya Ahmadinejad ke tampuk kekuasaan di Iran, muncul corak baru peningkatan-peningkatan kekuatan progresif, khususnya gerakan-gerakan untuk melawan imperialisme Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Ahmadinejad sangat anti terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ditambah lagi dengan pernyataan-pernyataannya seperti, ingin “menghapus Isreal dari peta dunia”, bahwa Barat yang mesti “bertanggung jawab atas terjadinya holocaust, bukan bangsa Palestina”, bahwa “suatu hari nanti Israel akan hancur”, dsb. AS menyadari bahwa kepemimpinan Ahmadinejad dan kondisi perlawanan Iran terhadap AS dapat berefek bola salju menjalar ke berbagai belahan dunia apabila tidak segera dihentikan. Kombinasi antara kepemimpinan Ahmadinejad, kondisi perlawanan rakyat Iran terhadap AS, dan kekuatan nuklir Iran, mengakumulasikan kekuatiran AS akan Iran.
Kesimpulan
Berdasarkan kasus mengenai ’Krisis Nuklir Iran’ di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan di bawah ini:
1. Proyek pengembangan nuklir yang dilakukan Iran memberikan ancaman bagi keamanan regional di Timur Tengah, bukan terhadap negara-negara Arab lain yang ada di Timur Tengah, melainkan bagi Israel, yang selama ini menjadi satu-satunya negara yang memiliki kekuatan nuklir di Timur Tengah. Proyek pengembangan nuklir yang dilakukan Iran akan memberikan ancaman terhadap security complex atau kompleks keamanan Timur Tengah, terutama terhadap Israel, juga memberikan ancaman terhadap security overlay atau tirai keamanan Israel. Faktor inilah yang menjadi salah satu alasan yang melandasi tindakan AS dalam upayanya untuk menghentikan program pengembangan nuklir Iran. Israel merupakan salah satu sekutu AS, dan AS tentu akan berupaya sekuat tenaga (meskipun dengan berbagai macam rekayasa) untuk melindungi sekutunya tersebut.
2. Selain bagi Israel, proyek pengembangan nuklir Iran juga dianggap sebagai ancaman bagi AS. AS memang memiliki kekhawatiran yang besar terhadap kepemilikan nuklir oleh Iran yang dikhawatirkan akan digunakan untuk memproduksi senjata nuklir. Merupakan suatu hal yang wajar jika suatu negara merasa tidak aman jika negara lain —terutama negara yang memiliki paham yang berseberangan dengan negaranya)— mengembangkan kekuatan nuklir. Akan muncul kekhawatiran bahwa nuklir tersebut akan disalahgunakan untuk pembuatan senjata. Namun kekhawatiran tersebut semakin tidak berdasar ketika telah dilakukan inspeksi kepada negara yang bersangkutan, dan negara tersebut tidak terbukti memproduksi senjata nuklir.
3. Terdapat beberapa alasan lain di balik penentangan AS terhadap pengembangan nuklir selain karena kekhawatirannya terhadap aktifitas produksi senjata nuklir yang mungkin dilakukan Iran. Alasan tersebut diantaranya: (1) AS memanfaatkan isu nuklir Iran untuk bisa masuk ke kawasan Timur Tengah terutama kawasan Teluk Persia, dimana di daerah tersebut terdapat cadangan minyak Iran yang besar, yang juga merupakan salah satu sumber minyak AS. Dengan menggerakkan militernya ke kawasan Persia (dengan dalih untuk menjaga keamanan di Teluk Persia karena isu nuklir Iran) akan semakin mendekatkan AS dari sumber cadangan minyaknya. (2) AS, terutama pada masa George W. Bush memiliki sentimen yang besar terhadap Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, karena sikapnya yang anti Amerika, yang juga mempengaruhi gerakan-gerakan di berbagai dunia untuk melawan imperialisme AS, seperti yang dilakukan Ahmadinejad di Iran.
Referensi
Buzan, Barry, Ole Waever, dan Jaap de Wilde. 1998. Security: A New Framework for Analysis. Colorado dan London: Lynne Rienner Publishers.
Broto wardoyo. Kontroversi Nuklir Iran, diakses pada 28 Mei 2010
Gunaryadi. 2006. ’Ploroferasi Nuklir Iran dan Realpolitik’, diakses pada 28 Mei 2010
Rizki Saputro. Ambisi nuklir iran dan permainan AS dalam http://rizkisaputro.wordpress.com/2008/01/25/ambisi-nuklir-iran-dan-permainan-as/ diakses pada 28 Mei 2010
Yanyan Moch. Yani. Sekitar Krisis Nuklir Iran, diakses pada 28 Mei 2010
Zamharir AR. Menyoal Krisis Nuklir Iran, Suara Karya Online, dalam http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=134215 diakses pada 28 Mei 2010
Pengaturan Hukum Internasional Atas Pemanfaatan Tenaga Nuklir dalam http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/12176/1/09E01679.pdf diakses pada 28 Mei 2010
UE: Perjanjian Nuklir Iran tak Tuntas, Kompas.com, 17 Mei 2010 dalam http://internasional.kompas.com/read/2010/05/17/23294796/UE:.Perjanjian.Nuklir.Iran.Tak.Tuntas diakses pada 28 Mei 2010
PENGGUNAAN STRATEGI PERANG SUN TZU DALAM PENYERANGAN JEPANG TERHADAP PEARL HARBOR PADA 7 DESEMBER 1941
Pendahuluan
Pearl Harbor merupakan pangkalan kapal-kapal Amerika Serikat di kepulauan Hawaii yang merupakan inti kekuatan Angkatan Laut AS di Pasifik. Keberadaan Pearl Harbor yang pada tahun 1941 berada di bawah komando Laksamana Husband E. Kimmel ini merupakan basis kekuatan yang khusus dibangun oleh Presiden F. D. Roosevelt di Pasifik untuk membatasi agresi militer Jepang di Timur Jauh, salah satunya terhadap China.
Sejak berdirinya Pearl Harbor, AS mempunyai keyakinan bahwa Jepang tidak mungkin menyerang Pearl Harbor. Selain karena letak kepulauan Jepang yang sangat jauh dari Hawaii, dimana Jepang tidak mungkin mampu dan berani menyeberang Lautan Pasifik yang luas untuk menyerang Pearl Harbor, AS juga masih meremehkan kekuatan militer Jepang. Ditambah lagi dengan serangkaian pernyataan yang diutarakan Jepang bahwa mereka tidak akan menyerang Pearl Harbor.
Namun, kita tentu telah mengetahui bahwa dalam setiap peperangan, apa yang tampak biasanya tidak sama dengan kondisi yang terjadi sebenarnya. Perang terdiri dari berbagai macam strategi, dan pihak yang memiliki strategi yang paling jitu lah yang bisa memenangkan perang. Hal inilah yang diyakini oleh Jepang. Dalam melakukan penyerangan terhadap Pearl Harbor, Jepang menggunakan beberapa strategi yang berasal dari pemikiran seorang filsuf dan ahli militer kuno dari China yaitu Sun Tzu. Apa saja strategi yang digunakan Jepang terhadap AS dalam penyerangannya ke Pearl Harbor? Serta, apa saja dampak jangka pendek dan jangka panjang yang dirasakan Jepang akibat penyerangannya terhadap Pearl Harbor? Semuanya akan saya bahas dalam esai ini.
Penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbor
Serangan Jepang terhadap Pearl Harbor terjadi pada tanggal 7 Desember 1941. Angkatan Laut Jepang menyerang Pearl Harbor secara tiba-tiba pada pagi hari tanggal 7 Desember. Penyerangan dimulai pada pukul 07:53 dan berakhir pada pukul 09:45 waktu setempat. Penyerangan ini dipimpin oleh Wakil Laksamana Chuichi Nagumo. Sejak tanggal 26 November 1941, Angkatan Laut Jepang yang terdiri dari enam kapal induk, dua kapal perang, dua kapal penjelajah berat, dua kapal penjelajah ringan, sembilan kapal perusak, serta tiga kapal selam telah meninggalkan Teluk Hitokappu di Kepulauan Kuril secara diam-diam menuju Pearl Harbor.
Ide mengenai penyerangan terhadap Pearl Harbor datang dari Kaisar Jepang, yang memutuskan untuk melakukan perang terhadap AS dan Inggris. Pada awalnya, Laksamana Isoroku Yamamoto tidak setuju, namun ia tetap hormat dan setia kepada Kaisar. Ia memiliki keyakinan bahwa kemungkinan Jepang menang melawan Amerika sangatlah kecil, kecuali Jepang melancarkan serangan pertama yang mematikan. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menyerang Pearl Harbor yang merupakan pangkalan kapal laut AS. Untuk memperoleh kemenangan atas perang melawan AS, maka ia berkeyakinan bahwa Pearl Harbor harus dimatikan. Dengan mematikan pusat Angkatan Laut AS di Asia Pasifik tersebut, maka akan mempermudah invasi Jepang ke selatan yaitu Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Ide Yamamoto ini akhirnya disetujui oleh para petinggi AL di Tokyo pada awal September 1940.
Kapal induk Jepang yang terlibat dalam serangan terhadap Pearl Harbor yaitu: Akagi, Hiryu, Kaga, Shokaku, Soryu, dan Zukaku. Semuanya memiliki sejumlah 441 kapal terbang, termasuk pejuang, pengebom-torpedo, pengebom penyelam dan pengebom-pejuang (fighter-bombers). Dari semuanya, 29 musnah dalam pertempuran. Serangan dilakukan dalam dua gelombang. Gelombang pertama targetnya adalah Battleship (kapal perang) dan pesawat. Gelombang kedua targetnya adalah kapal lainnya dan fasilitas dermaga lainnya. Penyerangan ini berhasil merusakkan dan menenggelamkan kurang lebih 20 kapal tempur AS, merusakkan 188 pesawat terbang, dan mengakibatkan 2403 korban Jiwa. Sedangkan pihak Jepang kehilangan 55 pesawat tempur dari 441 pesawat tempur yang dipakai.
Serangan terhadap Pearl Harbor dilakukan pada hari minggu. Karena hari itu hari minggu, terlebih lagi minggu pagi, pada saat itu banyak prajurit AS yang masih terlelap di tidurnya dan tidak siaga. Ditambah lagi, pada hari minggu tersebut, Admiral US Husband Kimmel dan Jendral Walter Short sedang diliburtugaskan.
Ketika serangan dilakukan, Pearl Harbor benar-benar sedang dalam keadaan tidak siap. Pesawat-pesawat terbang dibiarkan terbuka di tanpa perlindungan dan berdekat-dekatan sehingga sulit untuk diterbangkan. Pesawat Senjata Anti Aircraft di kapal pun semuanya dibiarkan tidak siap dan tanpa amunisi. Ditambah lagi karena faktor waktu dilakukannya serangan, yaitu minggu pagi, dimana banyak prajurit yang tidak siaga, serangan menjadi sangat sukses.
Sebenarnya radar di Pearl Harbor sudah mengetahui bahwa ada sekawanan formasi udara yang sangat besar yang sedang mendekati Pearl Harbor, namun petugas lapangan yang melapor kepada atasan mensalahartikan formasi itu sebagai pesawat B-17 Amerika yang dijadwalkan untuk memang datang ke Pearl Harbor. Ketika salah satu pesawat udara tersebut menjatuhkan bom di dekat pantai armada kapal, dan ketika seorang Senior Officer Present Affloat (SOPA), Laksamana Muda William R. Furlong melihat gambar bulatan merah di badan pesawat, yang merupakan lambang pesawat tempur Jepang, barulah mereka menyadari bahwa formasi udara tersebut adalah serangan musuh. Namun, Pearl Harbor sudah terlanjut dikepung. Kapal B5N1 Jepang sudah melepaskan torpedo ke segala arah, yang mengakibatkan hancurnya kapal-kapal induk AS.
Penggunaan Strategi Perang Sun Tzu dalam Penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbor
Sun Tzu merupakan seorang filsuf dan tokoh strategi militer kuno asal China yang menulis buku yang berjudul The Art of War sekitar 2500 tahun yang lalu. Strategi militer Sun Tzu telah banyak digunakan oleh para tokoh yang berpengaruh seperti Genghis Khan pada abad ke-13, Napoleon Bonaparte, Mao Tse Tung, Adolf Hitler, serta militer Jepang pun tidak luput dari pengajaran strategi militer Sun Tzu.
Di dalam bukunya The Art of War, Sun Tzu menuliskan tiga puluh enam strategi berperang. Di bawah ini akan saya uraikan beberapa strategi dari ketiga puluh enam strategi berperang Sun Tzu yang digunakan oleh Jepang dalam menyerang Pearl Harbor:
Strategi 2: “Kepung Wei untuk menyelamatkan Zhao”
“Ketika musuh terlalu kuat untuk diserang, seranglah sesuatu yang berharga yang dimilikinya. Ketahui bahwa musuh tidak selalu kuat di semua hal. Entah dimana, pasti ada celah di antara senjatanya, kelemahan pasti dapat diserang. Dengan kata lain, anda dapat menyerang sesuatu yang berhubungan atau dianggap berharga oleh musuh untuk melemahkannya secara psikologis.”
Strategi 4: ”Buat musuh kelelahan sambil menghemat tenaga”
”Adalah sebuah keuntungan, merencanakan waktu dan tempat pertempuran. Dengan cara ini, anda akan tahu kapan dan di mana pertempuran akan berlangsung, sementara musuh anda tidak. Dorong musuh anda untuk menggunakan tenaga secara sia-sia sambil anda mengumpulkan/menghemat tenaga. Saat ia lelah dan bingung, anda dapat menyerangnya.”
Strategi 10: ”Pisau tersarung dalam senyum”
”Puji dan jilat musuh anda. Ketika anda mendapat kepercayaan darinya, anda bergerak melawannya secara rahasia.”
Strategi 19: ”Jauhkan kayu bakar dari tungku masak.” (Lepaskan pegangan kayu dari kapaknya.)
”Ketika berhadapan dengan musuh yang sangat kuat untuk menghadapinya secara langsung anda harus melemahkannya dengan meruntuhkan pondasinya dan menyerang sumberdayanya.”
Strategi 25: ”Gantikan balok dengan kayu jelek.”
”Kacaukan formasi musuh, ganggu metode operasinya, ubah aturan-aturan yang digunakannya, buatlah sebuah hal yang berlawanan dengan latihan standarnya. Dengan cara ini anda telah meruntuhkan tiang-tiang pendukung yang dibutuhkan oleh musuh dalam membangun pasukan yang efektif.”
Strategi 27: ”Pura-pura menjadi seekor babi untuk memakan macan.” (Bergaya bodoh.)
”Sembunyi di balik topeng ketololan, mabuk, atau gila untuk menciptakan kebingungan atas tujuan dan motivasi anda. Giring lawan anda ke dalam sikap meremehkan kemampuan anda sampai pada akhirnya terlalu yakin akan diri sendiri sehingga menurunkan level pertahanannya. Pada situasi ini anda dapat menyerangnya.”
Strategi 30: ”Buat tuan rumah dan tamu bertukar tempat.”
”Kalahkan musuh dari dalam dengan menyusup ke dalam benteng lawan di bawah muslihat kerjasama, penyerahan diri, atau perjanjian damai. Dengan cara ini anda akan menemukan kelemahan dan kemudian saat pasukan musuh sedang beristirahat, serang secara langsung ke jantung pertahanannya.”
Berdasarkan strategi-strategi perang Sun Tzu yang dijadikan pedoman oleh panglima militer Jepang di atas, kita bisa lihat keterkaitan antara strategi nomor 2, 4, 19, dan 25, serta antara strategi 10, 27, dan 30.
Strategi nomor 2, 4, 19, dan 25 berisikan strategi untuk melemahkan musuh dengan menyerang kekuatannya, seperti sumber daya yang dimilikinya, hal-hal yang dianggap berharga oleh musuh, serta semua hal yang dapat menyokong kekuatan musuh. Selain itu, terdapat juga dorongan untuk merencanakan waktu dan tempat pertempuran, yang tidak diketahui oleh musuh. Hal ini bisa dilakukan dengan menyerang pusat kekuatan musuh dengan tiba-tiba tanpa sepengetahuan musuh. Hal ini akan melemahkan kekuatan musuh baik fisik maupun psikologis.
Penggunaan strategi-strategi ini bisa kita lihat dengan jelas dalam kasus penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbor, dimana ketika Kaisar Jepang memutuskan untuk berperang melawan AS yang notabene merupakan negara yang memiliki kekuatan yang besar, Laksamana Yamamoto memutar otak, dan dengan bantuan Strategi Berperang ala Sun Tzu, ia memutuskan untuk menyerang AS langsung ke pusat kekuatan angkatan perangnya di Pearl Harbor. Dengan melakukan hal ini, saya rasa Laksamana Yamamoto yakin bahwa jika penyerangan ini berhasil, maka AS, sebagai negara yang sangat kuat dalam hal angkatan perang, akan kehilangan sebagian besar kekuatannya, dan hal ini akan melumpuhkan militer AS selama beberapa waktu, sehingga Jepang dapat memanfaatkan kondisi kelumpuhan AS ini untuk menguasai wilayah Asia-Pasifik.
Strategi yang lainnya yaitu strategi nomor 10, 27, dan 30, berisikan anjuran untuk berpura-pura menjaga perdamaian dengan musuh, untuk mendapatkan kepercayaan dari musuh, dengan mengadakan perjanjian-perjanjian damai, serta berusaha untuk membuat musuh percaya bahwa mereka tidak akan pernah menyerangnya. Strategi-strategi tersebut juga jelas dilakukan oleh Jepang, dimana Jepang selalu bersikeras kepada AS bahwa mereka tidak akan pernah menyerang Pearl Harbor, serta mereka juga tertarik dengan perdamaian. Namun di balik itu ternyata Jepang sedang mempersiapkan pemboman terhadap Pearl Harbor.
Kesimpulan
Buku The Art of War dari Sun Tzu beserta strategi-strategi militernya sebenarnya telah mempengaruhi pemikiran militer Jepang sejak tahun 700-an Masehi. Hampir setiap peperangan yang dihadapi Jepang dipengaruhi oleh strategi-strategi dari pemikiran Sun Tzu. Strategi militer Jepang pada masa modern pun tidak terlepas dari strategi-strategi hasil pemikiran Sun Tzu. Salah satu contohnya adalah strategi militer Jepang pada masa Perang Dunia II, yang dalam esai ini saya fokuskan pada kasus penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbor.
Penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbor tentu melalui serangkaian perencanaan dan perhitungan matang. Setelah memutuskan untuk memerangi AS, Jepang, di bawah Laksamana Yamamoto percaya bahwa serangan ini akan melumpuhkan kekuatan AS, dan akan mempermudah Jepang untuk menguasai Asia Pasifik. Selain itu, serangan ini juga dipercaya akan membuat AS jatuh dan tidak akan ikut terlibat banyak di Perang Dunia II.
Serangan terhadap Pearl Harbor memang bisa dibilang sangat sukses. Bukan hanya pihak AS yang terkejut dengan serangan tersebut, pihak Jepang pun terkejut dengan kesuksesan yang mereka buat. Kesuksesan pengeboman terhadap Pearl Harbor memberikan kejayaan gemilang terhadap Jepang, dimana hanya dalam tempo beberapa bulan setelah penyerangan berlangsung, Jepang sudah bisa menguasai Asia Tenggara dan daerah Pasifik. Namun siapa sangka, kesuksesan tersebut hanya bertahan sementara. Penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbor ibaratnya seperti membangunkan singa yang tengah tertidur lelap. Sebelum terjadinya serangan, AS tidak berniat untuk terlibat dalam Perang Dunia II. Namun serangan terhadap Pearl Harbor telah membangkitkan kemarahan militer dan publik AS yang akhirnya membuat AS ikut terlibat dalam Perang Dunia II untuk membantu sekutu dan untuk membalas dendam terhadap Jepang. Di luar perkiraan, kekalahan dan kehancuran Jepang pada akhir Perang Dunia II yang disebabkan oleh serangan nuklir AS terhadap Hiroshima dan Nagasaki juga justru dilatarbelakangi oleh balas dendam AS terhadap Jepang karena serangannya terhadap Pearl Harbor.
Referensi
Attack at Pearl Harbor 1941, melalui http://www.eyewitnesstohistory.com/pearl.htm diakses pada 2 Juni 2010
“Pearl Harbor History: Why Did Japan Attack? Eyewitness Accounts, Casualty List, Background” melalui http://www.pearlharbor.org/history-of-pearl-harbor.asp diakses pada 2 Juni 2010
“Pearl Harbor Ships and Planes”, melalui http://plasma.nationalgeographic.com/pearlharbor/history/pearlharbor_facts.html diakses pada 2 Juni 2010
"There's Nothing Wrong With Our Radar!" http://www.pearl-harbor.com/georgeelliott/index.html diakses pada 2 Juni 2010
36 Strategi Sun Tzu, http://www.scribd.com/doc/4218877/36-STRATEGI-SUN-TZU diunduh pada 2 Juni 2010
Seni Perang ala Sun Tzu: Militer Jepang pun mengadopsinya, melalui http://www.tnol.co.id/en/spiritual/psychology/1729-qseni-perangq-ala-sun-tzu-militer-jepang-pun-mengadopsinya.html
NOTE: Tulisan di atas adalah tulisan yang saya buat untuk memenuhi tugas mata kuliah "Perang dan Damai" Entah mengapa disaat mengerjakan tugas ini, saya seperti benar-benar terhanyut dan seperti benar-benar merasakan suasana dan ketegangan yang diakibatkan oleh serangan jepang terhadap Pearl Harbor. ditambah lagi foto-foto hasil penyerangan yang saya liat. entah mengapa saya selalu exited jika saya mendengar atau membaca kisah-kisah yang terjadi dalam perang. Khususnya perang dunia I dan Perang dunia II.
oke.. enjoy my though...
Pearl Harbor merupakan pangkalan kapal-kapal Amerika Serikat di kepulauan Hawaii yang merupakan inti kekuatan Angkatan Laut AS di Pasifik. Keberadaan Pearl Harbor yang pada tahun 1941 berada di bawah komando Laksamana Husband E. Kimmel ini merupakan basis kekuatan yang khusus dibangun oleh Presiden F. D. Roosevelt di Pasifik untuk membatasi agresi militer Jepang di Timur Jauh, salah satunya terhadap China.
Sejak berdirinya Pearl Harbor, AS mempunyai keyakinan bahwa Jepang tidak mungkin menyerang Pearl Harbor. Selain karena letak kepulauan Jepang yang sangat jauh dari Hawaii, dimana Jepang tidak mungkin mampu dan berani menyeberang Lautan Pasifik yang luas untuk menyerang Pearl Harbor, AS juga masih meremehkan kekuatan militer Jepang. Ditambah lagi dengan serangkaian pernyataan yang diutarakan Jepang bahwa mereka tidak akan menyerang Pearl Harbor.
Namun, kita tentu telah mengetahui bahwa dalam setiap peperangan, apa yang tampak biasanya tidak sama dengan kondisi yang terjadi sebenarnya. Perang terdiri dari berbagai macam strategi, dan pihak yang memiliki strategi yang paling jitu lah yang bisa memenangkan perang. Hal inilah yang diyakini oleh Jepang. Dalam melakukan penyerangan terhadap Pearl Harbor, Jepang menggunakan beberapa strategi yang berasal dari pemikiran seorang filsuf dan ahli militer kuno dari China yaitu Sun Tzu. Apa saja strategi yang digunakan Jepang terhadap AS dalam penyerangannya ke Pearl Harbor? Serta, apa saja dampak jangka pendek dan jangka panjang yang dirasakan Jepang akibat penyerangannya terhadap Pearl Harbor? Semuanya akan saya bahas dalam esai ini.
Penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbor
Serangan Jepang terhadap Pearl Harbor terjadi pada tanggal 7 Desember 1941. Angkatan Laut Jepang menyerang Pearl Harbor secara tiba-tiba pada pagi hari tanggal 7 Desember. Penyerangan dimulai pada pukul 07:53 dan berakhir pada pukul 09:45 waktu setempat. Penyerangan ini dipimpin oleh Wakil Laksamana Chuichi Nagumo. Sejak tanggal 26 November 1941, Angkatan Laut Jepang yang terdiri dari enam kapal induk, dua kapal perang, dua kapal penjelajah berat, dua kapal penjelajah ringan, sembilan kapal perusak, serta tiga kapal selam telah meninggalkan Teluk Hitokappu di Kepulauan Kuril secara diam-diam menuju Pearl Harbor.
Ide mengenai penyerangan terhadap Pearl Harbor datang dari Kaisar Jepang, yang memutuskan untuk melakukan perang terhadap AS dan Inggris. Pada awalnya, Laksamana Isoroku Yamamoto tidak setuju, namun ia tetap hormat dan setia kepada Kaisar. Ia memiliki keyakinan bahwa kemungkinan Jepang menang melawan Amerika sangatlah kecil, kecuali Jepang melancarkan serangan pertama yang mematikan. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menyerang Pearl Harbor yang merupakan pangkalan kapal laut AS. Untuk memperoleh kemenangan atas perang melawan AS, maka ia berkeyakinan bahwa Pearl Harbor harus dimatikan. Dengan mematikan pusat Angkatan Laut AS di Asia Pasifik tersebut, maka akan mempermudah invasi Jepang ke selatan yaitu Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Ide Yamamoto ini akhirnya disetujui oleh para petinggi AL di Tokyo pada awal September 1940.
Kapal induk Jepang yang terlibat dalam serangan terhadap Pearl Harbor yaitu: Akagi, Hiryu, Kaga, Shokaku, Soryu, dan Zukaku. Semuanya memiliki sejumlah 441 kapal terbang, termasuk pejuang, pengebom-torpedo, pengebom penyelam dan pengebom-pejuang (fighter-bombers). Dari semuanya, 29 musnah dalam pertempuran. Serangan dilakukan dalam dua gelombang. Gelombang pertama targetnya adalah Battleship (kapal perang) dan pesawat. Gelombang kedua targetnya adalah kapal lainnya dan fasilitas dermaga lainnya. Penyerangan ini berhasil merusakkan dan menenggelamkan kurang lebih 20 kapal tempur AS, merusakkan 188 pesawat terbang, dan mengakibatkan 2403 korban Jiwa. Sedangkan pihak Jepang kehilangan 55 pesawat tempur dari 441 pesawat tempur yang dipakai.
Serangan terhadap Pearl Harbor dilakukan pada hari minggu. Karena hari itu hari minggu, terlebih lagi minggu pagi, pada saat itu banyak prajurit AS yang masih terlelap di tidurnya dan tidak siaga. Ditambah lagi, pada hari minggu tersebut, Admiral US Husband Kimmel dan Jendral Walter Short sedang diliburtugaskan.
Ketika serangan dilakukan, Pearl Harbor benar-benar sedang dalam keadaan tidak siap. Pesawat-pesawat terbang dibiarkan terbuka di tanpa perlindungan dan berdekat-dekatan sehingga sulit untuk diterbangkan. Pesawat Senjata Anti Aircraft di kapal pun semuanya dibiarkan tidak siap dan tanpa amunisi. Ditambah lagi karena faktor waktu dilakukannya serangan, yaitu minggu pagi, dimana banyak prajurit yang tidak siaga, serangan menjadi sangat sukses.
Sebenarnya radar di Pearl Harbor sudah mengetahui bahwa ada sekawanan formasi udara yang sangat besar yang sedang mendekati Pearl Harbor, namun petugas lapangan yang melapor kepada atasan mensalahartikan formasi itu sebagai pesawat B-17 Amerika yang dijadwalkan untuk memang datang ke Pearl Harbor. Ketika salah satu pesawat udara tersebut menjatuhkan bom di dekat pantai armada kapal, dan ketika seorang Senior Officer Present Affloat (SOPA), Laksamana Muda William R. Furlong melihat gambar bulatan merah di badan pesawat, yang merupakan lambang pesawat tempur Jepang, barulah mereka menyadari bahwa formasi udara tersebut adalah serangan musuh. Namun, Pearl Harbor sudah terlanjut dikepung. Kapal B5N1 Jepang sudah melepaskan torpedo ke segala arah, yang mengakibatkan hancurnya kapal-kapal induk AS.
Penggunaan Strategi Perang Sun Tzu dalam Penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbor
Sun Tzu merupakan seorang filsuf dan tokoh strategi militer kuno asal China yang menulis buku yang berjudul The Art of War sekitar 2500 tahun yang lalu. Strategi militer Sun Tzu telah banyak digunakan oleh para tokoh yang berpengaruh seperti Genghis Khan pada abad ke-13, Napoleon Bonaparte, Mao Tse Tung, Adolf Hitler, serta militer Jepang pun tidak luput dari pengajaran strategi militer Sun Tzu.
Di dalam bukunya The Art of War, Sun Tzu menuliskan tiga puluh enam strategi berperang. Di bawah ini akan saya uraikan beberapa strategi dari ketiga puluh enam strategi berperang Sun Tzu yang digunakan oleh Jepang dalam menyerang Pearl Harbor:
Strategi 2: “Kepung Wei untuk menyelamatkan Zhao”
“Ketika musuh terlalu kuat untuk diserang, seranglah sesuatu yang berharga yang dimilikinya. Ketahui bahwa musuh tidak selalu kuat di semua hal. Entah dimana, pasti ada celah di antara senjatanya, kelemahan pasti dapat diserang. Dengan kata lain, anda dapat menyerang sesuatu yang berhubungan atau dianggap berharga oleh musuh untuk melemahkannya secara psikologis.”
Strategi 4: ”Buat musuh kelelahan sambil menghemat tenaga”
”Adalah sebuah keuntungan, merencanakan waktu dan tempat pertempuran. Dengan cara ini, anda akan tahu kapan dan di mana pertempuran akan berlangsung, sementara musuh anda tidak. Dorong musuh anda untuk menggunakan tenaga secara sia-sia sambil anda mengumpulkan/menghemat tenaga. Saat ia lelah dan bingung, anda dapat menyerangnya.”
Strategi 10: ”Pisau tersarung dalam senyum”
”Puji dan jilat musuh anda. Ketika anda mendapat kepercayaan darinya, anda bergerak melawannya secara rahasia.”
Strategi 19: ”Jauhkan kayu bakar dari tungku masak.” (Lepaskan pegangan kayu dari kapaknya.)
”Ketika berhadapan dengan musuh yang sangat kuat untuk menghadapinya secara langsung anda harus melemahkannya dengan meruntuhkan pondasinya dan menyerang sumberdayanya.”
Strategi 25: ”Gantikan balok dengan kayu jelek.”
”Kacaukan formasi musuh, ganggu metode operasinya, ubah aturan-aturan yang digunakannya, buatlah sebuah hal yang berlawanan dengan latihan standarnya. Dengan cara ini anda telah meruntuhkan tiang-tiang pendukung yang dibutuhkan oleh musuh dalam membangun pasukan yang efektif.”
Strategi 27: ”Pura-pura menjadi seekor babi untuk memakan macan.” (Bergaya bodoh.)
”Sembunyi di balik topeng ketololan, mabuk, atau gila untuk menciptakan kebingungan atas tujuan dan motivasi anda. Giring lawan anda ke dalam sikap meremehkan kemampuan anda sampai pada akhirnya terlalu yakin akan diri sendiri sehingga menurunkan level pertahanannya. Pada situasi ini anda dapat menyerangnya.”
Strategi 30: ”Buat tuan rumah dan tamu bertukar tempat.”
”Kalahkan musuh dari dalam dengan menyusup ke dalam benteng lawan di bawah muslihat kerjasama, penyerahan diri, atau perjanjian damai. Dengan cara ini anda akan menemukan kelemahan dan kemudian saat pasukan musuh sedang beristirahat, serang secara langsung ke jantung pertahanannya.”
Berdasarkan strategi-strategi perang Sun Tzu yang dijadikan pedoman oleh panglima militer Jepang di atas, kita bisa lihat keterkaitan antara strategi nomor 2, 4, 19, dan 25, serta antara strategi 10, 27, dan 30.
Strategi nomor 2, 4, 19, dan 25 berisikan strategi untuk melemahkan musuh dengan menyerang kekuatannya, seperti sumber daya yang dimilikinya, hal-hal yang dianggap berharga oleh musuh, serta semua hal yang dapat menyokong kekuatan musuh. Selain itu, terdapat juga dorongan untuk merencanakan waktu dan tempat pertempuran, yang tidak diketahui oleh musuh. Hal ini bisa dilakukan dengan menyerang pusat kekuatan musuh dengan tiba-tiba tanpa sepengetahuan musuh. Hal ini akan melemahkan kekuatan musuh baik fisik maupun psikologis.
Penggunaan strategi-strategi ini bisa kita lihat dengan jelas dalam kasus penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbor, dimana ketika Kaisar Jepang memutuskan untuk berperang melawan AS yang notabene merupakan negara yang memiliki kekuatan yang besar, Laksamana Yamamoto memutar otak, dan dengan bantuan Strategi Berperang ala Sun Tzu, ia memutuskan untuk menyerang AS langsung ke pusat kekuatan angkatan perangnya di Pearl Harbor. Dengan melakukan hal ini, saya rasa Laksamana Yamamoto yakin bahwa jika penyerangan ini berhasil, maka AS, sebagai negara yang sangat kuat dalam hal angkatan perang, akan kehilangan sebagian besar kekuatannya, dan hal ini akan melumpuhkan militer AS selama beberapa waktu, sehingga Jepang dapat memanfaatkan kondisi kelumpuhan AS ini untuk menguasai wilayah Asia-Pasifik.
Strategi yang lainnya yaitu strategi nomor 10, 27, dan 30, berisikan anjuran untuk berpura-pura menjaga perdamaian dengan musuh, untuk mendapatkan kepercayaan dari musuh, dengan mengadakan perjanjian-perjanjian damai, serta berusaha untuk membuat musuh percaya bahwa mereka tidak akan pernah menyerangnya. Strategi-strategi tersebut juga jelas dilakukan oleh Jepang, dimana Jepang selalu bersikeras kepada AS bahwa mereka tidak akan pernah menyerang Pearl Harbor, serta mereka juga tertarik dengan perdamaian. Namun di balik itu ternyata Jepang sedang mempersiapkan pemboman terhadap Pearl Harbor.
Kesimpulan
Buku The Art of War dari Sun Tzu beserta strategi-strategi militernya sebenarnya telah mempengaruhi pemikiran militer Jepang sejak tahun 700-an Masehi. Hampir setiap peperangan yang dihadapi Jepang dipengaruhi oleh strategi-strategi dari pemikiran Sun Tzu. Strategi militer Jepang pada masa modern pun tidak terlepas dari strategi-strategi hasil pemikiran Sun Tzu. Salah satu contohnya adalah strategi militer Jepang pada masa Perang Dunia II, yang dalam esai ini saya fokuskan pada kasus penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbor.
Penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbor tentu melalui serangkaian perencanaan dan perhitungan matang. Setelah memutuskan untuk memerangi AS, Jepang, di bawah Laksamana Yamamoto percaya bahwa serangan ini akan melumpuhkan kekuatan AS, dan akan mempermudah Jepang untuk menguasai Asia Pasifik. Selain itu, serangan ini juga dipercaya akan membuat AS jatuh dan tidak akan ikut terlibat banyak di Perang Dunia II.
Serangan terhadap Pearl Harbor memang bisa dibilang sangat sukses. Bukan hanya pihak AS yang terkejut dengan serangan tersebut, pihak Jepang pun terkejut dengan kesuksesan yang mereka buat. Kesuksesan pengeboman terhadap Pearl Harbor memberikan kejayaan gemilang terhadap Jepang, dimana hanya dalam tempo beberapa bulan setelah penyerangan berlangsung, Jepang sudah bisa menguasai Asia Tenggara dan daerah Pasifik. Namun siapa sangka, kesuksesan tersebut hanya bertahan sementara. Penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbor ibaratnya seperti membangunkan singa yang tengah tertidur lelap. Sebelum terjadinya serangan, AS tidak berniat untuk terlibat dalam Perang Dunia II. Namun serangan terhadap Pearl Harbor telah membangkitkan kemarahan militer dan publik AS yang akhirnya membuat AS ikut terlibat dalam Perang Dunia II untuk membantu sekutu dan untuk membalas dendam terhadap Jepang. Di luar perkiraan, kekalahan dan kehancuran Jepang pada akhir Perang Dunia II yang disebabkan oleh serangan nuklir AS terhadap Hiroshima dan Nagasaki juga justru dilatarbelakangi oleh balas dendam AS terhadap Jepang karena serangannya terhadap Pearl Harbor.
Referensi
Attack at Pearl Harbor 1941, melalui http://www.eyewitnesstohistory.com/pearl.htm diakses pada 2 Juni 2010
“Pearl Harbor History: Why Did Japan Attack? Eyewitness Accounts, Casualty List, Background” melalui http://www.pearlharbor.org/history-of-pearl-harbor.asp diakses pada 2 Juni 2010
“Pearl Harbor Ships and Planes”, melalui http://plasma.nationalgeographic.com/pearlharbor/history/pearlharbor_facts.html diakses pada 2 Juni 2010
"There's Nothing Wrong With Our Radar!" http://www.pearl-harbor.com/georgeelliott/index.html diakses pada 2 Juni 2010
36 Strategi Sun Tzu, http://www.scribd.com/doc/4218877/36-STRATEGI-SUN-TZU diunduh pada 2 Juni 2010
Seni Perang ala Sun Tzu: Militer Jepang pun mengadopsinya, melalui http://www.tnol.co.id/en/spiritual/psychology/1729-qseni-perangq-ala-sun-tzu-militer-jepang-pun-mengadopsinya.html
NOTE: Tulisan di atas adalah tulisan yang saya buat untuk memenuhi tugas mata kuliah "Perang dan Damai" Entah mengapa disaat mengerjakan tugas ini, saya seperti benar-benar terhanyut dan seperti benar-benar merasakan suasana dan ketegangan yang diakibatkan oleh serangan jepang terhadap Pearl Harbor. ditambah lagi foto-foto hasil penyerangan yang saya liat. entah mengapa saya selalu exited jika saya mendengar atau membaca kisah-kisah yang terjadi dalam perang. Khususnya perang dunia I dan Perang dunia II.
oke.. enjoy my though...
Subscribe to:
Posts (Atom)